Selokan yang Tersumbat
*Cerpen*
Sabtu, 12 September 2026.
Pagi itu, Raka sudah tahu bahwa hari tersebut akan menjadi hari yang panjang.
Bukan karena pekerjaan kantor. Bukan karena ada rapat. Bahkan bukan karena ia harus pergi ke tempat yang jauh.
Anak keduanya, Naya, akan mengikuti lomba mewarnai.
Sejak beberapa hari sebelumnya, istrinya, Mira, sudah mengatur semuanya.
"Besok jangan ada acara lain, ya," kata Mira malam sebelumnya.
Raka yang sedang memeriksa pekerjaan anak sulung mereka hanya mengangguk.
"Iya."
"Kita harus berangkat pagi."
"Iya."
"Naya harus sampai sebelum peserta lain ramai."
"Iya."
Mira memandangnya.
"Jangan cuma iya."
Raka tersenyum kecil.
"Memangnya harus jawab apa?"
"Ya bilang siap."
"Siap, Ratu."
Mira mendengus, tetapi sudut bibirnya sempat terangkat.
Dulu, Raka menyukai sisi istrinya yang seperti itu.
Tegas.
Punya rencana.
Tidak suka sesuatu berjalan sembarangan.
Ia pernah mengatakan kepada seorang temannya, "Mira itu kalau sudah punya rencana, langit mendung pun mungkin dia suruh cerah."
Saat itu ia mengatakannya sambil tertawa.
Ia tidak pernah menyangka, bertahun-tahun kemudian, sifat yang dahulu membuatnya kagum justru menjadi salah satu sumber kelelahan dalam rumah tangga mereka.
---
Lomba berjalan lancar.
Naya duduk di antara puluhan anak lain, menggenggam krayon dengan jemari kecilnya. Sesekali ia menoleh ke arah ibunya.
"Ibu, yang ini warna apa?"
"Yang mana?"
"Langit."
"Biru."
"Kalau rumput?"
"Hijau."
"Kalau rumah?"
Mira berpikir sebentar.
"Merah saja atapnya."
Naya kembali menggambar.
Raka memperhatikan dari jauh.
Ia tersenyum.
Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya ingin ia simpan dalam ingatan: anak-anaknya tumbuh, mencoba sesuatu, berani tampil, dan sesekali menoleh untuk memastikan orang tuanya masih ada.
Menjelang siang mereka pulang.
Pukul satu lewat sedikit ketika kendaraan mereka memasuki halaman rumah.
Begitu turun, Naya langsung melepaskan sepatu.
"Aku capek."
"Aku juga," sahut kakaknya.
Mira membuka pintu.
"Ya sudah, semuanya istirahat."
Rumah menjadi sunyi.
Pukul dua.
Raka tertidur.
Tubuhnya seperti langsung kehilangan tenaga begitu menyentuh kasur.
Mira tidak tidur.
Ia duduk sambil memainkan telepon genggam.
Satu video.
Lalu video lain.
Kemudian pesan.
Kemudian media sosial.
Waktu bergerak tanpa suara.
Pukul empat sore.
Raka terbangun.
Mira masih memegang telepon.
"Sudah bangun?" tanyanya.
"Sudah."
Raka duduk di tepi tempat tidur.
Kepalanya terasa berat.
Ia melihat jam.
"Salat dulu."
Mira mengangguk.
Setelah salat, pekerjaan rumah mulai memanggil.
"Masak nasi, ya," kata Mira.
"Ketela sekalian?"
"Iya."
Raka masuk dapur.
Ia mencuci beras.
Menanak ketela.
Kemudian matanya tertuju pada tumpukan pakaian.
Ia menghela napas.
Hari belum selesai.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang sudah beberapa hari mengganggu pikirannya.
Selokan di depan rumah.
Air hujan beberapa hari terakhir tidak mengalir sempurna. Daun, tanah, dan sampah kecil menyumbat bagian bawahnya.
"Kalau dibiarkan, bisa tergenang," pikir Raka.
Ia teringat nasihat tentang genangan air dan nyamuk.
Ia ingin membersihkannya sore itu.
Namun sebelum keluar, Mira berkata,
"Nanti bajunya dicuci sekalian."
Raka menoleh.
"Yang putih juga?"
"Iya."
"Baik."
Tidak lama kemudian Mira memasukkan pakaian ke ember.
"Aku mau menjenguk Bu Sari. Katanya sakit."
"Ya."
"Kamu di rumah?"
"Iya."
Mira pergi.
Raka berdiri sendirian di dapur.
Ia melihat piring.
Melihat pakaian.
Melihat selokan dari jendela.
"Mana dulu?"
Ia tersenyum getir.
"Semua mau dikerjakan."
Ia mencuci piring.
Kemudian keluar membersihkan selokan.
Lumpur menempel di tangannya.
Bau air kotor menusuk hidung.
Beberapa kali ia harus jongkok dan mengorek bagian yang tersumbat menggunakan tangan dan sepotong kayu.
Setelah beberapa menit, air yang tadinya tertahan mulai bergerak.
Mengalir.
Raka duduk sebentar di pinggir selokan.
"Alhamdulillah."
Kemudian ia teringat pakaian.
Ia masuk.
Mengambil pakaian yang sudah direndam.
Mencucinya.
Satu ember.
Kemudian ember berikutnya.
Tangannya pegal.
Perutnya mulai terasa kosong.
Ia membuka freezer.
Ayam masih ada.
"Ah, ayam."
Ia lupa menurunkannya.
"Nanti saja."
Ia menutup freezer.
Beberapa menit kemudian tubuhnya seperti menyerah.
Raka duduk di lantai.
Lalu berbaring.
Bukan untuk tidur.
Ia hanya tidak sanggup berdiri.
---
Mira pulang ketika hari mulai gelap.
Ia meletakkan tas.
"Mas?"
Tidak ada jawaban.
Ia menemukan Raka terbaring di lantai ruang tengah.
"Kamu kenapa?"
"Lemas."
"Lemas kenapa?"
"Capek."
Mira diam.
Raka mengangkat kepala.
"Bu, tolong ayamnya diturunkan."
Mira membuka freezer.
Kemudian berkata,
"Jangan langsung dimasak."
"Kenapa?"
"Kan sudah beku."
Raka menutup mata.
"Iya."
"Nanti kalau langsung digoreng tidak enak."
Raka tidak menjawab.
Perutnya semakin sakit.
"Nasinya sudah matang," katanya kemudian. "Ketelanya juga."
"Belum bisa makan itu."
"Kenapa?"
"Aku maunya ayam."
Raka menarik napas.
Ia ingin mengatakan banyak hal.
Bahwa dirinya juga lapar.
Bahwa sejak pagi ia sudah mengantar anak, mencuci piring, membersihkan selokan, mencuci pakaian, dan sekarang tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Namun ia memilih diam.
"Ya sudah."
Ia mandi.
Kemudian salat Magrib berjamaah.
Sesudah salat, ia kembali berbaring.
Mira masuk kamar.
Telepon genggam kembali berada di tangannya.
Raka memandang langit-langit.
Ia mendengar suara perutnya sendiri.
Keroncongan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar.
Mira keluar.
Wajahnya tidak seperti biasanya.
"Kapan ayamnya dimasak?"
"Nanti."
"Kapan?"
"Kalau sudah tidak beku."
Mira tidak menjawab.
Ia kembali ke kamar.
Raka memejamkan mata.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya ia bangkit.
Membuat teh.
"Minum dulu."
Mira menerima cangkir itu tanpa berkata apa-apa.
Raka kembali ke lantai.
Kemudian terdengar bunyi *klik*.
Kompor menyala.
Raka menoleh.
Ia mengira Mira hendak memasak ayam.
Namun beberapa menit berlalu.
Tidak ada suara minyak.
Tidak ada bunyi penggorengan.
Kompor tetap menyala.
Raka bangkit.
Ia berjalan ke dapur.
Mematikan api.
Kemudian mengambil penggorengan.
Ayam dimasukkannya.
Minyak mendesis.
Aroma masakan memenuhi rumah.
Tangannya gemetar.
Bukan karena marah.
Karena lelah.
---
"Makan."
Raka membawa ayam ke kamar.
Mira duduk.
Anak-anak ikut datang.
Mereka makan dalam diam.
Tidak lama kemudian anak sulung mengambil air putih dari kulkas.
"Kenapa airnya diambil dari kulkas?"
Anak itu terdiam.
"Minum."
"Saya haus, Bu."
"Kan bisa minum air biasa."
Anak itu menunduk.
Raka melihat wajah anaknya.
Ada ketakutan kecil di sana.
Ketakutan yang mungkin tidak akan pernah diingat anak itu sepuluh tahun lagi.
Tetapi Raka akan mengingatnya.
Malam itu, setelah semua tidur, Raka masih terjaga.
Ia duduk di ruang tengah.
Lampu hanya menyala satu.
Mira sudah tidur.
Raka memandang pintu kamar mereka.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Tetapi ia sudah tahu apa yang biasanya terjadi jika ia mencoba membicarakannya.
"Kamu menyalahkanku."
"Kamu selalu merasa paling benar."
"Kamu memang tidak pernah puas."
Atau kalimat yang paling sering membuatnya memilih diam:
"Kalau kamu tidak suka, ya sudah."
Dulu Raka selalu membalas.
Sekarang tidak.
Ia mulai belajar bahwa dalam beberapa pertengkaran, kemenangan hanya berarti dua orang sama-sama kalah.
---
Mereka sebenarnya tidak selalu seperti ini.
Ada masa ketika Mira menunggu Raka pulang dengan teh.
Ada masa ketika mereka bisa tertawa hanya karena listrik mati.
Ada masa ketika mereka duduk berdua setelah anak-anak tidur dan membicarakan masa depan.
"Aku ingin anak-anak kita punya rumah yang hangat," kata Mira suatu malam.
Raka menggenggam tangannya.
"Insyaallah."
"Jangan seperti keluargaku."
Raka menoleh.
Mira terdiam.
Ia tidak melanjutkan.
Saat itu Raka tidak bertanya.
Ia pikir masa lalu adalah sesuatu yang tidak perlu dibongkar jika tidak mengganggu masa kini.
Ternyata ia salah.
Beberapa luka tidak hilang hanya karena tidak dibicarakan.
Luka itu bisa berubah menjadi cara seseorang memperlakukan orang lain.
---
Minggu pagi.
Raka bangun lebih awal.
Ia membuat sarapan.
Anak-anak duduk di meja.
Mira keluar kamar.
"Kenapa nasi tinggal sedikit?"
"Anak-anak sudah makan."
Mira mengerutkan kening.
"Harusnya disisakan."
Raka menatapnya.
Kemudian berkata pelan,
"Mereka lapar."
"Aku juga."
Raka diam.
Kalimat itu sederhana.
Namun sesuatu di dalam dirinya seperti patah.
Bukan karena Mira mengatakan dirinya lapar.
Tetapi karena tiba-tiba ia sadar bahwa selama ini mereka berdua seperti hidup dengan bahasa yang berbeda.
Ia selalu berpikir tentang kebutuhan keluarga.
Mira selalu berpikir tentang apa yang harus dipenuhi agar semuanya sesuai dengan yang ia inginkan.
Mungkin keduanya sama-sama merasa berkorban.
Mungkin keduanya sama-sama merasa tidak dihargai.
Dan mungkin itulah awal dari semua keretakan.
Bukan karena seseorang sepenuhnya jahat.
Melainkan karena dua orang yang sama-sama lelah tidak lagi mampu melihat kelelahan orang lain.
---
Beberapa minggu kemudian, Raka membuat keputusan.
Ia tidak lagi akan menyelesaikan semua masalah dengan diam.
Malam itu setelah anak-anak tidur, ia berkata,
"Mir, kita perlu bicara."
Mira mengangkat wajah.
"Besok saja."
"Tidak."
Mira terdiam.
"Kenapa?"
"Aku capek."
"Aku juga."
"Aku tahu."
Raka menarik napas.
"Aku bukan mau bertengkar."
"Terus?"
"Aku takut."
Mira mengerutkan dahi.
"Takut apa?"
"Takut anak-anak kita menganggap marah itu cara normal menyelesaikan masalah."
Mira diam.
"Aku juga takut suatu hari mereka tidak mau pulang karena rumah ini tidak lagi terasa seperti rumah."
Mira menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Raka melihat sesuatu yang berbeda di mata istrinya.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Tetapi seperti seseorang yang tiba-tiba mendengar sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia dengar.
Raka melanjutkan,
"Aku tahu aku juga punya salah."
Mira tidak menjawab.
"Aku sering diam."
"Karena kamu memang tidak pernah mau bicara."
Raka mengangguk.
"Mungkin."
"Lalu?"
"Aku diam karena setiap kali bicara, kita bertengkar."
Mira menunduk.
Raka melanjutkan,
"Dan semakin lama aku diam, semakin banyak yang menumpuk."
Hening.
Kemudian Mira berkata,
"Kamu pikir aku bahagia?"
Raka terdiam.
"Aku juga capek, Mas."
Itulah pertama kalinya Mira mengucapkan kalimat tersebut tanpa kemarahan.
"Aku selalu merasa kalau semuanya tidak aku atur, semuanya akan berantakan."
Raka menatap istrinya.
"Aku takut menjadi seperti ibuku."
Kalimat itu membuat Raka terdiam lama.
"Seperti ibumu?"
Mira mengangguk.
"Dulu di rumahku, kalau sesuatu tidak sesuai keinginan Ibu, semua orang harus menyesuaikan."
Air matanya jatuh.
"Aku benci suasana itu."
Raka tidak berkata apa-apa.
"Aku berjanji tidak akan seperti beliau."
Mira tertawa kecil dalam tangis.
"Tapi ternyata..."
Ia tidak melanjutkan.
Raka merasakan dadanya sesak.
Selama ini ia mengira sedang berhadapan dengan seorang perempuan yang keras.
Ternyata mungkin ia sedang berhadapan dengan seseorang yang sepanjang hidupnya sedang melawan bayangan masa lalu.
Dan tanpa sadar, bayangan itu telah tumbuh di dalam dirinya.
---
Beberapa hari setelah percakapan itu, sesuatu berubah.
Tidak drastis.
Tidak seperti dalam cerita yang tiba-tiba semua masalah selesai.
Mira masih sesekali marah.
Raka masih sesekali memilih diam.
Mereka masih berbeda pendapat.
Tetapi ada satu kebiasaan baru.
Setiap kali suara mulai meninggi, salah satu dari mereka akan berkata,
"Berhenti dulu."
Kemudian mereka berhenti.
Bukan untuk melarikan diri.
Tetapi untuk memberi ruang agar kemarahan tidak mengambil alih.
Suatu sore, hujan turun deras.
Raka melihat air mulai menggenang di depan rumah.
Ia mengambil cangkul.
Mira keluar.
"Mau ke mana?"
"Ke selokan."
"Aku ikut."
Raka menoleh.
Mira sudah memakai sandal.
Mereka berjalan bersama.
Di bawah hujan, mereka jongkok di depan selokan.
Lumpur kembali menutup saluran air.
Mira mengambil sepotong kayu.
"Aku bersihkan yang sebelah sini."
Raka tersenyum.
"Iya."
Beberapa menit kemudian air mulai mengalir.
Mira memandang aliran air itu.
"Mas."
"Hm?"
"Selokan ini kalau tersumbat memang bikin genangan, ya."
Raka mengangguk.
Mira tersenyum tipis.
"Rumah tangga juga begitu, mungkin."
Raka menatapnya.
Tidak ada yang mereka katakan sesudah itu.
Mereka hanya terus membersihkan.
Hujan jatuh semakin deras.
Air mengalir semakin lancar.
---
Malamnya, Raka membuka freezer.
Ia menemukan sebungkus ayam.
Ia tersenyum.
"Mau dimasak sekarang?"
Mira yang sedang duduk di meja makan menggeleng.
"Besok saja."
"Kenapa?"
"Sudah malam."
Raka tertawa kecil.
Kemudian ia mengambil ketela yang tersisa.
"Kita makan ini?"
Mira mengangguk.
"Makan."
Mereka duduk berdua.
Tidak ada hidangan istimewa.
Tidak ada ayam goreng.
Hanya ketela hangat dan teh.
Mira memandang Raka.
"Mas."
"Ya?"
"Maaf."
Satu kata.
Pendek.
Tetapi bagi Raka, rasanya seperti pintu yang sudah lama terkunci akhirnya terbuka sedikit.
Ia tidak langsung membalas.
Kemudian berkata,
"Aku juga minta maaf."
Mira menggeleng.
"Bukan begitu."
"Aku tahu."
Mereka tersenyum.
Di kamar, anak-anak tertawa kecil.
Rumah itu belum sempurna.
Mungkin tidak akan pernah sempurna.
Tetapi malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka merasa tidak perlu berbaring di lantai untuk menghindari pertengkaran.
Ia bisa duduk.
Ia bisa bicara.
Ia bisa mengatakan bahwa dirinya lelah.
Dan seseorang mendengarkan.
---
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak mereka mungkin tidak akan mengingat lomba mewarnai pada 12 September 2026.
Mereka mungkin lupa gambar yang dibuat Naya.
Mungkin lupa warna krayon yang dipakainya.
Mungkin bahkan lupa siapa yang memenangkan lomba.
Tetapi Raka selalu mengingat hari itu.
Bukan karena ayam yang terlalu lama berada di freezer.
Bukan karena teh panas.
Bukan karena selokan yang dibersihkannya seorang diri.
Ia mengingatnya karena hari itu ia hampir menyadari sesuatu yang sangat terlambat:
bahwa sebuah rumah tidak selalu runtuh karena badai besar.
Kadang-kadang ia runtuh karena genangan kecil yang dibiarkan.
Karena kata-kata yang ditahan.
Karena kemarahan yang tidak pernah dijelaskan.
Karena permintaan maaf yang terlalu lama ditunda.
Dan karena dua orang yang sebenarnya sama-sama ingin dicintai, tetapi terlalu sibuk menuntut agar dirinya dipahami.
Malam itu, sebelum tidur, Raka memeriksa pintu rumah.
Sudah terkunci.
Lampu teras menyala.
Anak-anak tidur.
Mira sudah lebih dulu terlelap.
Raka berdiri beberapa saat di depan kamar.
Lalu tersenyum.
Ia teringat sebuah doa yang pernah ia panjatkan ketika tubuhnya terbaring lemas di lantai.
Dulu ia meminta agar istrinya bertobat.
Kini ia sadar, doa itu belum lengkap.
Ia seharusnya juga meminta agar **dirinya sendiri diberi keberanian untuk berubah.**
Sebab barangkali Tuhan tidak selalu memperbaiki rumah dengan mengubah salah satu penghuninya.
Kadang Tuhan memperbaiki rumah dengan membuat dua penghuninya sadar bahwa mereka sama-sama sedang terluka.
Raka mematikan lampu.
Ia masuk ke kamar.
Mira bergerak sedikit dalam tidurnya.
"Mas?"
"Iya?"
"Belum tidur?"
"Belum."
Mira mengulurkan tangan.
Raka menggenggamnya.
Di luar, hujan masih turun.
Tetapi malam itu tidak ada genangan.
Karena sebelum air memenuhi halaman, mereka sudah belajar membersihkan jalan yang tersumbat.
Dan mungkin begitulah rumah tangga.
Bukan tentang menemukan pasangan yang tidak pernah marah.
Bukan pula tentang menjadi pasangan yang tidak pernah salah.
Melainkan tentang mau membersihkan sumbatan sebelum air berubah menjadi banjir.
Karena ketika banjir sudah setinggi dada, kadang-kadang yang harus diselamatkan bukan lagi rumah.
Melainkan hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.
